batajak asa karindangan di sasala daun karing kada talihat nang mana sirip amun gugur, ramuk rapai kadada bakas bagamatan bajalan di titian lanting jabuk marawa pian nang kada hiran matan samalaman
sapanjangan tiba kautara hibak lawan si langkar baduri haja siapa lain kada si kambang mawar ngarannya Baparak tacucuk, bajauh asa handak bamarah Habang atawa putih kada jauh saling haruman ibarat putri raja ngalih dipinang Kumbang kada sambarang kawa bamuara salah-salah dapat kada tacucuk dia 2008
pandangi jendela kaca tanpa tirai di sudut kamar itu kau akan dapati aku di sana menunggumu membawa secawan rindu untuk kau reguk hingga mengendap di dasar hatimu
Mawar kupu-kupu, hati penyair : buat Nisa Amalia Mimpi dan masa depan tentang sayap kupu-kupu menuju rumah cinta yang mesti lewat di atas mawar dan bangunan di sudut parasmu terus menduga ; adakah sekutu yang menuntunku ? lalu tanpa meranting menyapa suir-suir halimun seperti bayang-bayang memanggil ruh dalam dekapan inilah tubuhku semaput menguliti percakapan tentang nama samaran di antara bendera beliamu perempuan dan gaun kepadaku kemana saja hidup kita membaringkan kuluman senyum ; Mengingatkan pada kuncup pagi kadang-kadang melukis warna-warni birahi yang gugur sebelum melubangi kerinduan di misteri mawar-mawar Maka penyair tak lain hanya kesempatan membuat kejujuran dan mimpi masa depan melempar sejarah kita menerbangkan kupu-kupu dari parasmu Sekayu, 2008
nisa Ranting-ranting melodi melintasi lisanku,hiasi temboktembok hati menggema oleh keindahan lirik dan irama utarakan cerita lama perih yang singgah disetiap tangga-tangga nadanya membuat biola selalu setia mengiringi perjalanan panjangnya tarian dedaunan mengayun lemah lemas,terkulai di atas gersang padang membalut ceking dahan pepohonan dambakan tempias sang hujan Banjarbaru,2008
lihatlah, cahaya imajinasiku berdesakan berebut masuk kedalam dunia khayalku sketsa dan alur drama yang harmonis penuhi ruang lingkup fantasiku ku curahkan semua dengan pena dan secarik kertas ku ajak mereka menari berputar merangkai kata menjadikan satu naskah dengan skenario yang melukiskan sejuta makna bertaburanlah dilangit membentuk pelangi bias sinarnya menyatu dalam urat nadi terjebak disela-sela penjara bathinku menciptakan kekuatan dan keteguhan hati Banjarbaru,2008
anggun peri kecil berkejaran di jembatan pelangi setapak demi setapak dia lalui tanpa lelah mendaki satu demi satu berkas sinarnya dapatkan kembali patahan sayapnya Mataraman,2008
ku memutari pinggiran pantai memandang jauh kelaut lepas elok sinar mentari sayu kemerahan sampaikan salam,pamit untuk pulang hati kecilku berbisik indahnya senja ini, saksikan pentas drama kehidupan keindahan ciptaan Tuhan Mataraman,2008
Memandang mentari di pucuk cemara Kusangkutkan anganku di warna cahayamu Masa depan yang cemerlang Kutulis di lembar kertas yang putih Kumantapkan hatiku dari segala rintangan Kulangkahkan kaki menyusuri jalan dari rumus ke rumus Dari seluruh aksara inseklopidia pada cakrawala Kitab-kitab semesta Kupandangi warna pelangi yang membias di langit biru Awan putih beterbangan melintas angan-angan Mentari adalah harapan masa depan Yang kusangkutkan pada warna yang memancarkan jejak - jejak kakiku Mataraman, 2008
letih . . . lelah tlah membaur jadi satu saat terfikir olehku untuk tetap berjalan, namunku letih ingin terus berlari namunku lelah Aku bingung tak dapat berbuat apa-apa sstt . . . hanya sempat tersirat tanya apa yang harus aku lakukan ??? haruskah ku diam, haruskah ku berhenti tetap saja tak ada yang mengerti, kosong . . . aku bahkan bosan menapaki kisah hidup yang tak pernah berubah Mataraman,2008
nisa Angin malam hadir menyapa merasuk bersembunyi disetiap sudut- sudut kulitku Hatiku berbisik, dingin mendera Gelisah menghantui langkah gontaiku Sepi tanpa hadir bulan Hening tanpa sinar bintang Kusibak pekat malam Arungi lautan impian Aku terus melangkah Meski fajar tak kunjung datang Meski dingin semakin dalam menyelimuti ragaku Hingga kutemukan seberkas cahaya sirnakan kegelisahan Mataraman,2008